Home / Tekno Business / Yakin Rokok Elektronik Lebih Baik?
Yakin Rokok Elektronik Lebih Baik
Yakin Rokok Elektronik Lebih Baik?

Yakin Rokok Elektronik Lebih Baik?

TEKNO BANGET, Tekno Business – Banyak perokok kini telah beralih menggunakan rokok elektronik, atau yang lebih dikenal dengan e-cig atau vape. Bagi mereka, rokok elektronik lebih simpel dan mudah digunakan, lebih praktis, lebih gaul, dan juga lebih baik daripada rokok tembakau biasa. Namun, sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam American Journal of Physiology memperingatkan bahwa beberapa aditif dan rasa dalam rokok elektronik dapat sama berbahayanya – atau bahkan lebih buruk dari – rokok tembakau biasa. Yakin rokok elektronik lebih baik?

Peneliti menemukan jika bahan-bahan tersebut dapat merusak fungsi paru-paru dan meningkatkan peradangan paru-paru, tetapi efeknya tidak bertahan lama. Selama penelitian, para peneliti memaparkan empat kelompok tikus ke empat kondisi yang berbeda, termasuk asap rokok biasa, uap rokok elektronik dengan propylene glycol dan vegetable glycerol (dua bahan utama yang digunakan dalam e-liquid), serta uap dengan propylene glycol dan nikotin, serta uap dengan propylene glycol, nikotin, dan aroma tembakau.

Tikus dari kelompok-kelompok ini dipelajari dan efeknya dibandingkan dengan masing-masing kelompok, serta dibandingkan dengan tikus yang berada di udara terbuka. Para peneliti menemukan bahwa setelah tiga hari, tikus yang terkena ketiga varietas uap rokok elektronik menunjukkan peningkatan lendir dan peradangan, serta gangguan fungsi paru-paru.

Tim mencatat bahwa kelompok paparan propylene glycol memiliki lebih sedikit efek yang tidak diinginkan dari paparan jangka panjang, meskipun hal itu menunjukkan bahwa itu dapat menyebabkan masalah lebih dini saja. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa protein terkait peradangan hanya meningkat pada kelompok yang terpapar dengan aroma yang ditambahkan, yang berarti beberapa senyawa rasa dapat berbahaya bagi paru-paru bahkan dengan paparan jangka pendek.

Melalui catatan ini, tim menemukan bahwa tekanan oksidatif pada tikus yang terkena aroma tersebut sama dengan atau bahkan lebih tinggi daripada tikus yang terpapar asap rokok. Paparan yang berkepanjangan, meskipun hanya mengganggu fungsi paru-paru dari tikus yang terkena asap dan bukan uap.